ANGGOTA Komisi D DPRD Kutai Timur Yan mengatakan rencana pemerintah kembali membuka sekolah untuk pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) sebaiknya ditinjau kembali. Kendati dalam wacana itu mempertimbangkan zona penanganan Covid-19 sebagai dasar penerapannya.
“Rencananya kan diklasifikasi dari zona aman, zona hijau diperbolehkan sekolah tatap muka namun tetap menerapkan protokol kesehatan ketat. Tapi masalahnya saat ini, zona aman itu suka berubah-ubah. Bisa jadi yang hijau kemarin tiba-tiba kuning atau merah hari ini,” ujar Yan, Jumat (26/6/2021).
Dengan pertimbangan itu, ia menilai pembelajaran daring atau online masih menjadi pilihan terbaik dan aman untuk dilakukan. Alasannya, demi mencegah penyebaran covid-19 dan memberikan rasa aman baik bagi orangtua siswa maupun murid itu sendiri.
Walau demikian, ia mengakui pembelajaran daring belum seefektif yang dibayangkan. Kebiasaan baru memaksa murid dan tenaga pendidik berinteraksi secara online mengubah metode pemberian mata pelajaran.
Guru juga dituntut untuk lebih kreatif dan inovatif dalam memberikan materi. Selain itu harus mencari cara agar kejenuhan proses belajar yang dialami murid tidak memberikan penurunan kualitas pembelajaran.
“Itu baru evaluasi soal metode belajar. Belum menyinggung sarana prasarana memadai di lapangan. Belum tentu semua murid atau orangtuanya punya media belajar daring yang memadai seperti smartphone,” kata Yan.
Ditambah ketersediaan jaringan internet yang stabil dan baik di sejumlah wilayah. Masih banyak wilayah khususnya di pelosok maupun pesisir kecamatan bisa mendapatkan akses internet.
“Selain itu jika dilihat dari aspek ekonomi tidak semua orang tua memiliki kemampuan untuk membeli dan menyediakan perangkat ini untuk anaknya dalam belajar, apalagi dalam kondisi pandemi yang sebagian besar orang tua mengalami penurunan pendapatan atau penghasilan bahkan ada yang dirumahkan,” ujarnya. (Adv)



