SANGATTA – Ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino mulai diantisipasi Perumdam Tirta Tuah Benua Kutai Timur (Kutim). Puncak musim kering yang diperkirakan terjadi pada Agustus–September berpotensi menurunkan ketersediaan air baku dan mengganggu pelayanan air bersih di sejumlah wilayah.
Direktur Utama Perumdam Tirta Tuah Benua Kutim, Suparjan, mengatakan pihaknya telah melakukan pemetaan terhadap seluruh wilayah pelayanan di 18 kecamatan. Hasil identifikasi menunjukkan terdapat enam kecamatan yang masuk kategori rawan mengalami penurunan ketersediaan air baku.
“Setelah kami lakukan identifikasi, ada enam kecamatan yang masuk kategori rawan, yakni Sangatta Utara, Sangatta Selatan, Sangkulirang, Kaliorang, Sandaran, termasuk juga wilayah Teluk Pandan,” ujar Suparjan.
Menurutnya, dampak El Nino diperkirakan paling terasa pada Agustus dan September. Namun, Perumdam telah memulai langkah antisipasi sejak April 2026.
Ia menjelaskan sedikitnya terdapat lima langkah yang dilakukan untuk menjaga pelayanan air bersih tetap berjalan. Upaya tersebut meliputi optimalisasi sarana yang ada, pengerukan saluran air, pengadaan pompa, hingga kerja sama pembelian air curah.
Salah satu kerja sama dilakukan dengan penyedia air di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy untuk memenuhi kebutuhan air bersih di Kecamatan Sangkulirang dan Kaliorang.
“MoU sudah kami tandatangani. Mudah-mudahan akhir bulan ini sudah bisa mulai beroperasi,” katanya.
Selain itu, Perumdam juga menjalin kerja sama dengan SPAM Regional Teluk Pandan guna memperkuat pasokan air bersih bagi masyarakat Dusun Sidrap, Desa Martadinata, Kecamatan Teluk Pandan. Saat ini kerja sama tersebut masih dalam tahap penyelesaian.
Suparjan mengungkapkan, dampak kekeringan mulai dirasakan sejak Mei 2026, terutama di Kecamatan Kaliorang dan Sangkulirang yang menjadi wilayah paling rawan.
“Kaliorang dan Sangkulirang paling parah. Dampaknya sudah mulai terasa sejak Mei. Masyarakat di sana sudah mulai kesulitan mendapatkan air karena debit air turun,” ungkapnya.
Debit air di Kaliorang dan Sangkulirang yang sebelumnya sekitar 50 liter per detik sempat turun hingga 15 liter per detik. Saat ini debitnya mulai meningkat menjadi sekitar 19–20 liter per detik, namun masih jauh dari kebutuhan pelayanan yang mencapai 50 liter per detik.
“Kebutuhan kami 50 liter per detik, sedangkan yang tersedia sekarang baru sekitar 20 liter per detik,” jelasnya.
Suparjan menambahkan, pasokan air yang tersedia saat ini diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di wilayah ring satu Kaliorang. Sementara kebutuhan air bersih di Kecamatan Sangkulirang akan dipenuhi melalui kerja sama pembelian air curah.
“Yang tersedia sekarang baru sekitar 20 liter per detik. Itu kami prioritaskan untuk masyarakat di ring satu Kaliorang. Untuk Sangkulirang akan kami upayakan melalui pembelian air curah,” tambahnya.
Selain menjaga pelayanan air bersih, Perumdam juga menyiapkan dukungan bagi Satuan Tugas (Satgas) Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Dukungan tersebut berupa penyediaan tiga titik pengambilan air di wilayah Sangatta dan sekitarnya, di antaranya di Jalan Pendidikan dekat Pos Damkar dan Instalasi Pengolahan Air (IPA) Kudungga.
“Ini penting agar Satgas tidak kesulitan memperoleh pasokan air saat penanganan kebakaran hutan dan lahan,” pungkasnya. (Adv)



