MAMA Assonta, begitulah dia kerap disapa. Wanita paruh baya kelahiran Bola, Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur itu, selalu setia dalam balutan pakaian tradisional Suku Sikka di Flores. Dia tetap melestarikan warisan leluhur itu, kendati berdomisili di Desa Makmur Jaya, Kecamatan Kombeng, Kutai Timur, Kalimantan Timur.
Rambut digelung khas tradisi tanah leluhurnya, dan berbalut sarung tenun ikat serta berhiaskan gelang gading pada tangan kiri dan kanannya, Mama Assonta seolah memberi isyarat, bahwa mencintai tradisi itu penting dimanapun kita melangkah.
Sejak masa remaja, seperti laiknya kebiasaan masyarakat di Nusa Tenggara Timur yang lekat dengan tradisi menenun, seluruh masa indahnya pada saat itu dihabiskan untuk belajar dan belajar, demi lahirkan sebuah mahakarya. Mahakarya yang menyatu dalam untaian ribuan benang berhiaskan motif untuk menjadi sebuah tenun ikat nan indah.
Di tanah Borneo, Mama Assonta tetap membalut diri dan jiwa akan kecintaan pada tradisinya. Sebuah perjalanan sedari kecil hingga remaja yang akrab dengan dunia tenun sebagai sebuah warisan tradisi telah membentuk sosok dan jiwanya. Mencintai tradisi tanpa mengenal pamrih, dan memasrahkan hidup dari tenun.
Setelah lebih dari 30 tahun di perantauan, Mama Assonta tetaplah seperti sediakala. Akrab dengan dunianya, untuk terus melahirkan karya-karya mempesona dalam setiap ketuk alat tenun. Kecintaannya itu tak pernah surut, walau sang penerus tak jua lahir.
Pada sebuah rumah di ujung jalan, tepat di sebuah simpang tiga, sejak pagi hingga menjelang sore, Mama Assonta larut dalam rutinitas menenun. Dalam jiwanya telah terpatri untuk terus menenun.
Saat ditemui pelanggan atau pengunjung, dia terlihat sibuk mencipta motif-motif indah, pada hamparan benang-benang berwarna kuning, yang merupakan tahap kedua dari proses membuat tenun ikat.
“Setelah semuanya diikat membentuk deret motif yang selaras, berikutnya adalah proses mencelup,” kata Mama Assonta.
Mama Assonta, seperti terlahir untuk mencipta dalam kesetiaan tanpa pamrih berhias ragam keterbatasan. Dia terus dan terus mencipta. (*)



