Klikkutim.com – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kutim, Ubaldus Badu, menyoroti kondisi jalan provinsi di Kecamatan Karangan yang mengalami putus. Menurutnya, akibat putusnya jalan tersebut, harga barang di beberapa desa menjadi lebih mahal, meskipun hanya berjarak beberapa kilometer dari Kecamatan Kaubun, namun harga di dua kecamatan itu sangat berbeda.
“Jalan ini kan terkait langsung dengan kesejahteraan masyarakat, karena berkaitan dengan mobilisasi barang, sehingga terkait langsung dengan harga terutama sembako. Dengan putusnya jalan itu, maka kini barang kebutuhan masyarakat harus melalui jalan perusahan sawit yang ada. Namun kalau dalam kondisi hujan, masyarakat bisa bermalam beberapa malam di tengah kebun sawit, baru sampai ke Karangan dan sebaliknya, sampai ke Kaubun,” kata Ubaldus.
Ubaldus Badu menyatakan bahwa jalan tersebut memiliki keterkaitan langsung dengan kesejahteraan masyarakat karena berhubungan dengan pengangkutan barang. Akibat putusnya jalan tersebut, pengangkutan sembako menjadi sulit dan harga barang di Kecamatan Karangan mengalami kenaikan yang signifikan. Misalnya, harga beras 25 kg di Karangan mencapai Rp400 ribu lebih, sementara di Kaubun hanya Rp340 ribu. Begitu pula dengan harga solar yang di Karangan mencapai Rp20 ribu per liter, sedangkan di Kaubun masih Rp12 ribu per liter.
Ubaldus menyatakan bahwa sulitnya transportasi menyebabkan perjalanan dari Kaliorang ke Kaubun hingga ke Karangan memerlukan waktu yang lebih lama, yaitu tiga hari. Akibatnya, perbedaan harga antara dua kecamatan tersebut semakin besar, sementara sebelumnya, ketika jalan dalam kondisi baik, perbedaan harga lebih kecil.
“Ini karena masalah tranportasi yang sulit. Kalau dulu, dari Kaliorang ke Kaubun, sampai ke Karangan perjalanan hanya sekitar sehari, kini bisa tiga hari baru sampai. Kalau dulu jalan bagus, perbedaan harga di Kaubun dan Karangan hanya kecil, sekarang sudah berbeda jauh ,” ungkapnya. (Adv)



