KLIKKUTIM.com – Sebuah video yang memperlihatkan seekor orangutan menyeberang jalan raya beraspal, viral dan menarik perhatian warganet. Video tersebut diunggah oleh akun Twitter Orangutan COP @orangutan_COP pada Selasa (16/11/2021).
Dalam caption video, akun @orangutan_COP menyebutkan bahwa peristiwa orangutan menyeberang jalan itu terjadi di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.
Satwa langka yang dilindungi itu tampak menyeberangi jalan ketika sebuah truk berwarna kuning sedang melintas. Truk itu pun mengurangi kecepatan untuk memberinya jalan. Sejurus kemudian, muncul dua mobil berwarna putih dan hitam menyalip truk dan hampir menabrak mamalia tersebut.
Kapten Habitat Centre for Orangutan Protection (COP), Arif Hadiwijaya, membenarkan peristiwa itu. Arif mengatakan, video direkam di wilayah Kutai Timur. Lokasi persisnya diduga di Jalan Ahmad Yani, jalur poros Simpang Perdau di Bengalon menuju Kecamatan Muara Wahau.
Berdasarkan laporan yang diterima COP dalam tiga bulan terakhir, setidaknya orangutan sudah 10 kali terlihat di kawasan tersebut. Ada satwa yang melintasi jalan, duduk di pinggir jalan, atau bergelantungan di pohon.
Jalur Simpang Perdau-Muara Wahau termasuk dalam kawasan karst Sangkulirang-Mangkalihat. Hutan tropis basah di wilayah karst ini adalah area di mana fauna tersebut biasa berkembangbiak. Diduga, area tempat tinggal yang makin menyempit ini membuat orangutan kian nekat berinteraksi dengan manusia.
“Penyebab habitat orangutan makin sempit, kalau bicara mengenai Kaltim, ya, entah itu bersinggungan dengan konsesi pertambangan batu bara, perkebunan kelapa sawit, atau area yang digunakan masyarakat sekitar,” kata Arif.
Belum Tersedia Koridor Lintasan Satwa di Area Konsesi Perusahaan
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Timur Ivan Yusfi Noor menjelaskan, timnya sudah turun ke lokasi setelah video itu beredar. Setelah dicek, kejadian itu berada di sekitar Km 5,5 dari Simpang Perdau, ruas Jalan Sangatta-Muara Wahau. Dari hasil peninjauan lapangan, timnya tak menjumpai orangutan.
Namun, ia bisa memastikan memang terdapat orangutan di sekitar jalan tersebut. Itu terbukti karena timnya menemukan sarang orangutan berjarak ratusan meter dari jalan raya. Sarang itu berada di salah satu pucuk pohon dengan ciri tumpukan dahan kecil yang dipatahkan dan dibengkokkan.
Dari ciri-ciri yang ada di video, Ivan memastikan bahwa itu orangutan jantan dewasa yang terlihat dari ukuran tubuh dan bentuk pelipis yang gemuk dan bantalan pipi (cheek pad). Mamalia endemik itu menyeberang jalan diduga mencari makan atau bereproduksi mengingat hutan sekunder di kedua sisi jalan itu adalah habitat orangutan.
BKSDA Kaltim juga mencatat, dari sejumlah penelitian, wilayah tersebut merupakan habitat orangutan. Wilayahnya meliputi Sangatta-Bengalon-Tepian Langsat-Muara Wahau. Dari pengamatan BKSDA Kaltim, habitat tersebut tak semuanya terhubung. Ada yang terpisah oleh jalan raya.
”Areal di situ memang tutupan hutan sekunder. Di situ, kami, juga para peneliti, mengenal Perdau, Bengalon, sampai Wahau adalah habitat orangutan. (Di sana) ada kawasan hutan, ada APL (areal penggunaan lain),” ujar Ivan melansir kompas.id pada Jumat (19/11/2021).
APL yang Ivan maksud adalah konsesi PT Kaltim Prima Coal (KPC), salah satu perusahaan tambang batubara terbesar di Kaltim. Dari kawasan pertambangan itu, disisakan kawasan yang ditumbuhi vegetasi hutan sekunder sebagai tempat hidup orangutan.
Mukhlisi dan Wawan Gunawan menulis penelitian dengan judul ”Karakteristik Vegetasi Habitat Orangutan (Pongo pygmaeus morio) di PT KPC, Kaltim” yang diterbitkan Jurnal Biologi Al-Kauniyah. Di dalam jurnal terbitan November 2018 itu, mereka menulis kawasan konsesi PT KPC menjadi salah satu habitat tersisa bagi populasi orangutan di luar kawasan konservasi dengan ciri khas vegetasi hutan sekunder.
Secara lanskap, kawasan PT KPC berbatasan langsung dengan Taman Nasional Kutai yang menjadi habitat alami orangutan. Dari amatan mereka, sebagian populasi orangutan di kawasan PT KPC menempati kantong-kantong habitat terpisah yang sudah tidak saling terhubung satu sama lain, terutama pada bekas kawasan reklamasi pascatambang.
”Yang kemarin baru dipresentasikan oleh Dr Yaya Rayadin, ahli orangutan dari Universitas Mulawarman, di area konsesi pertambangan PT KPC yang masih berhutan itu ada sekitar 500 ekor orangutan. Area vegetasinya memang luas. Tujuannya memang itu, sebagai tempat satwa untuk menyelamatkan diri saat area tambangnya dibuka,” kata Ivan.
Berdasarkan pengalaman Ivan, orangutan melintas di sekitar jalan tersebut bukan hal baru. Pada 2006, ia melihat orangutan menyeberang saat berkendara di sekitar Simpang Perdau. Selain itu, terdapat sejumlah laporan warga ke BKSDA Kaltim terkait munculnya orangutan di sana.
Mengingat jalur tersebut adalah jalur cukup ramai dilalui kendaraan, BKSDA Kaltim akan membuat plang atau papan peringatan untuk pengguna jalan. Isinya mengenai imbauan untuk berhati-hati dan larangan memberi makan kepada satwa liar yang melintas.
”Saya sudah memerintahkan untuk segera membuat rambu yang nanti akan mengingatkan pengendara yang melalui jalur itu,” katanya.
Sebelumnya, Manajer Yayasan Pro Natura Agusdin, mitra pemerintah dalam mengelola Hutan Lindung Sungai Wain di Balikpapan, mengingatkan pentingnya koridor satwa dalam pembangunan jalan yang beririsan dengan habitat satwa. Itu bisa disesuaikan dengan karakteristik satwa di sekitarnya.
Koridor yang dimaksud adalah tempat khusus yang dibuat melintang di atas jalan untuk satwa melintas. Bentuknya bisa berupa jembatan atau terowongan yang ditanami flora tertentu untuk menggiring satwa melintas di sana. Itu rekayasa untuk menghindari satwa untuk menyeberang langsung di jalan.
”Binatang itu perlu kawasan yang menunjang untuk berpindah tempat. Jika tidak, rentan terjadi konflik antara satwa dan manusia. Itu juga untuk menghindari satwa tertabrak saat melintas jalan raya,” katanya.
Terkait hal tersebut, Ivan mengatakan, di sekitar Simpang Perdau belum terdapat koridor khusus untuk satwa melintas. Pihaknya belum memiliki data penunjang tentang titik mana saja yang kerap dilalui satwa untuk berpindah tempat.
”Kita harus benar-benar meneliti terlebih dahulu. Apakah ada jalur-jalur khusus yang kerap dilalui. Butuh penelitian tentang aktivitas dan perilaku mereka. Atau, bisa juga membangun desain yang mengarahkan satwa ke terowongan atau jembatan khusus itu.” ujar Ivan. (*)
Editor: Ahmad Ardan



