Musibah banjir Sangatta, Kutai Timur, telah merendam permukiman warga sejak Jumat (18/3/2022).
Masyarakat di Kecamatan Sangatta Selatan dan Sangatta Utara yang terdampak banjir, masih memerlukan banyak bantuan. Terutama persoalan makanan, lantaran akses masuk ke Sangatta saat ini sulit ditembus akibat terisolir oleh banjir di jalur poros.Menurut penuturan warga di Dusun Masabang, Sangatta Selatan, bantuan juga cukup sulit diperoleh lantaran akses yang sulit. Yakni, banjir terlalu tinggi untuk ditembus dengan kendaraan darat. Hanya dengan perahu akses bisa lebih mudah.
Melihat itu, para pemuda yang mengatasnamakan Fraksi Rakyat Kutim (FRK) mencoba memberi kritikan dan masukan kepada Pemkab Kutim.
Erwin dari FRK mengatakan, pihaknya turut prihatin melihat kondisi banjir yang menyita perhatian masyarakat luas. Maka, dia menganggap perlu adanya masukan yang baik kepada pemerintah setempat, agar lebih berani mengambil sikap tanggap darurat.
Erwin menjabarkan, ada lima poin yang disorot FRK.
“Pertama, kami menilai Pemkab Kutim gagap dalam melaksanakan operasi tanggap dararut bencana banjir Sangatta. Bahwa, peralatan dan potensi SAR tidak mencukupi, penyelamatan dan evakuasi korban lambat, kebutuhan pokok korban tidak mencukupi,” ucap Erwin kepada Halokaltim.
Kemudian, lanjutnya, dalam musibah banjir ini seakan menggambarkan pemkab termasuk gagal dalam mitigasi bencana dan memastikan daya dukung ekosistem.
“Kami mendesak segera dilakukan koordinasi antarlembaga dan memastikan operasi tanggap darurat bencana dilakukan dengan memaksimalkan peralatan dan potensi SAR, evakuasi penyelamatan korban, dan pemenuhan kebutuhan pokok korban,” tegasnya.
FRK berharap, Pemkab Kutim bisa segera lakukan mitigasi bencana, pemulihan ekonomi, dan melakukan upaya mengungkapkan dugaan pelanggaran lingkungan apa yang mungkin terjadi.
“Kami mendorong Pemkab Kutim untuk menerapkan KLHS (kajian lingkungan hidup strategis) RPJMD dan RTRW,” pungkas Erwin. (*)



